Senin, 02 November 2015

JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA


PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN
MIND MAPPING DAN METODE PEMBELAJARAN
 PROBLEM SOLVING  DI SMP NEGERI 1 BARAT
 TAHUN AJARAN  2014/2015

Cicik Kriswati 1), Edy Suprapto 2), Reza Kusuma Setyansah3)
1)Prodi Pendidikan Matematika, FPMIPA, IKIP PGRI MADIUN
Email: cicikkriswati@gmail.com
2)Prodi Pendidikan Matematika, FPMIPA, IKIP PGRI MADIUN
Email: edypraja@gmail.com
3)Prodi Pendidikan Matematika, FPMIPA, IKIP PGRI MADIUN
Email: Rezasetyansah@gmail.com


Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Manakah metode yang lebih baik antara metode pembelajaran Mind mapping, Problem Solving atau ceramah, (2) Ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving atau ceramah. 
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen.Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Barat Tahun Pelajaran 2014/2015. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Barat yang berjumlah 8 kelas. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Sampel dalam penelitian sejumlah 99 siswa. Metode pengumpulan data menggunakan metode tes dan metode dokumentasi. Uji coba instrumen meliputi validitas isi, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu: uji keseimbangan, uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas), uji hipotesis penelitian menggunakan analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama.
Hasil uji hipotesis penelitian dengan analisis variansi satu jalan sel tak sama menunjukkan: (1) Metode pembelajaran Mind mapping memberikan pengaruh prestasi belajar lebih baik dibanding metode pembelajaran Problem Solving, metode pembelajaran Problem Solving memberikan pengaruh prestasi belajar sama baiknya dengan metode ceramah, metode Mind Mapping memberikan pengaruh prestasi belajar sama baiknya dengan metode ceramah, (2) terdapat perbedaan pengaruh prestasi belajar antara metode pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving dan ceramah.

Kata Kunci: Prestasi belajar, Mind Mapping, Problem Solving, Ceramah



PENDAHULUAN                        
Mata Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting, karena matematika tidak terlepas dari aspek kehidupan sehari–hari. Sampai saat ini mata pelajaran matematika pada tingkat sekolah dasar sampai menengah masih memiliki masalah diantaranya matematika dianggap  mata pelajaran yang sangat sulit dan tidak menarik dibandingkan dengan mata pelajaran lain.
Prestasi belajar siswa dalam matematika dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar selain bakat dan kecerdasan antara lain adalah minat dan motivasi siswa dalam belajar. Faktor eksternal seperti kualitas guru, metode mengajar, lingkungan, fasilitas mengajar dan lain sebagainya ikut mempengaruhi prestasi belajar siswa. Sehingga untuk menghasilkan peserta didik yang berprestasi, seorang pendidik haruslah mampu mensinergikan kedua faktor diatas.
Berdasarkan hasil pengamatan pada waktu pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 1 Barat pada tanggal 15 September 2014 sampai tanggal 6 Desember 2014 masih terdapat beberapa kelemahan pada pelaksanaan pembelajaran, salah satunya karena pembelajaran matematika di sekolah masih menggunakan metode pembelajaran konvensional atau ceramah yaitu kegiatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Siswa tidak terlibat secara aktif dalam pembelajaran, siswa hanya duduk diam menerima materi yang disampaikan oleh guru, siswa juga cenderung ramai, mengantuk, tidak ada siswa yang mau bertanya dan siswa tidak mampu menjawab dengan sempurna pertanyaan yang diberikan oleh guru.
 Berdasarkan kenyataan yang ada, prestasi belajar matematika masih rendah. Rendahnya prestasi belajar ini ditunjukkan dengan rendahnya nilai UTS pada mata pelajaran matematika siswa kelas VIIIE SMP Negeri 1 Barat tahun pelajaran 2014/2015, nilai UTS yang didapat masih dibawah KKM yang telah ditentukan sebesar 75. Sebanyak 45% dari 30 jumlah siswa perkelas mendapatkan nilai rata-rata 50. Berdasarkan kenyataan prestasi belajar harus ditingkatkan khususnya prestasi dalam pembelajaran matematika.
Dalam meningkatkan prestasi belajar, komponen utama adalah guru dan siswa. Agar prestasi pembelajaran meningkat, guru diharapkan mampu menanamkan menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menarik. Salah satu kelemahan siswa SMP adalah bagaimana menerapkan rumus-rumus kedalam soal matematika.
 Hal tersebut di perkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran matematika dan beberapa siswa yaitu 4 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Barat pada tanggal 14 Maret 2015. Diperoleh dari wawancara 4 siswa ada yang menjawab bahwa matematika itu sulit, banyak rumus sehingga kesulitan untuk menghafalkan rumus tersebut. Guru menyebutkan siswa di SMP negeri 1 Barat belum mempunyai prestasi akademik matematika di tingkat Kecamatan maupun di tingkat Kabupaten tetapi banyak siswa yang berprestasi di bidang akademik Bahasa Inggris setiap tahunnya. Cara yang lain untuk meningkatkan prestasi belajar  siswa dapat dilakukan melalui perbaikan proses pengajaran. Dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Oleh karena itu guru harus mampu mencari metode pembelajaran yang lebih efektif sehingga prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
Melihat hal-hal yang mendasari pentingnya pemilihan metode pembelajaran melalui sebuah pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru, perlu adanya suatu penelitian terhadap model relevan yang dapat digunakan di SMP Negeri 1 Barat  terkait dalam pelajaran matematika. Oleh karena itu, peneliti mencoba membandingkan model pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving atau metode ceramah yang dipandang cocok diterapkan di SMP Negeri 1 Barat.
 Metode Pembelajaran Mind mapping merupakan teknik penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan seluruh potensi otak agar optimum. Pada Mind mapping siswa didorong untuk dapat meningkatkan daya ingat. Sehingga kegiatan belajar mengajar akan lebih menarik untuk siswa dan akan menjadikan siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti KBM. sedangkan metode pembelajaran Problem Solving merupakan metode pembelajaran yang melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik masalah matematika atau masalah yang lain, serta mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan persoalan-persoalan Pada prinsipnya tahapan kedua metode pembelajaran tersebut hampir sama, yaitu siswa dituntut aktif dalam mencari dan menemukan serta memecahkan persoalan-persoalan dalam pembelajaran. Namun dalam proses pembelajarannya terdapat perbedaan, dimana dalam metode pembelajaran Problem Solving dapat dilakukan secara individu sedangkan metode Mind Mapping dilakukan dalam team.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan menerapkan metode pembelajaran Mind Mapping dan metode Pembelajaran Problem Solving terhadap prestasi belajar matematika siswa.
Maka dalam menyusun skripsi ini, penulis mengambil judul  “Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Siswa dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Mind Mapping dan Metode Pembelajaran Problem Solving di SMP Negeri 1 Barat Tahun Ajaran 2014/2015”. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dari penelitian ini adalah: 1) Manakah yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap prestasi belajar siswa antara metode pembelajaran Mind mapping, Problem Solving atau ceramah pada pada kelas VIII SMP Negeri 1 Barat Tahun ajaran 2014/2015. 2) Apakah Ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan metode pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving atau ceramah  pada kelas VIII SMP Negeri 1 Barat Tahun ajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan SMPN 1 Barat, Jl. Raya Pos Barat, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu menggunakan metode eksperimen. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti melakukan pengukuran terhadap keberadaaan suatu variabel dengan menggunakan instrument penelitian. Setelah itu, peneliti melanjutkan analisis untuk mencari hubungan satu variabel dengan variabel lainnya. Menurut Sugiono     (2013: 38) variabel penelitian pada dasarnya adalah “suatu atribut atau sifat nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Menurut Menurut Boediono dan Koster (2004 : 9) Populasi didefinisikan sebagai suatu  keseluruhan pengamatan atau obyek yang menjadi perhatian kita. Dengan demikian dapat disimpulkan populasi merupakan seluruh individu yang dimaksudkan sebagai sasaran dalam penelitian dan populasi harus mempunyai sifat yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 1 Barat tahun Pelajaran 2014/2015. Menurut Boediono dan Koster (2004: 9) Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi perhatian kita. Pengambilan sampel menggunakan random sampling. Arikunto (2005: 95) mengemukakan bahwa sampling acak (random sampling) digunakan oleh peneliti apabila populasi dari mana sampel diambil merupakan populasi homogen”.Jenis sampling acak yang digunakan adalah sampling acak sederhana (simple random sampling).
Sampel dalam penelitian ini sebanyak tiga kelas yaitu kelas kontrol, eksperimen I, eksperimen II. Metode yang digunakan untuk memperoleh data adalah metode tes dan metode dokumentasi. Menurut Indrakusuma (dalam Arikunto, 2007: 32) menyatakan tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Tes dilaksanakan setelah proses pembelajaran dengan metode pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving dan ceramah. Menurut Noor (2011: 141) menyebutkan sejumlah besar fakta dan data tesimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia yaitu berbentuk surat, catatan harian, cendera mata, artefak, dan foto. Sifat utama data ini terbatas ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam.
 Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen, dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji t. Data kemampuan awal siswa diambil dari nilai UTS sester genap tahun 2014/2015. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi satu  jalan dengan sel tak sama. Sebelumnya data kemampuan awal maupun data tes prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Liliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan H0 ditolak dilakukan uji komparasi ganda mengunakan metode Scheffe.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Data yang digunakan untuk uji keseimbangan adalah nilai ulangan tengah semester (UTS) semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Hasil uji prasyarat diperoleh bahwa sampel berasal dari populasi berdistribusi normal dan mempunyai varian yang homogen. Hasil uji keseimbangan menggunakan Uji t diperoleh kesimpulan populasi mempunyai kemampuan matematika yang sama atau seimbang.
Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik materi pokok  kubus dan balok. Hasil uji prasyarat diperoleh kesimpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.
Pembahasan
Dengan menggunakan hasil analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama, diperoleh hasil uji hipotesis seperti tampak pada tabel 1.


Tabel 1. Rangkuman Analisi Variansi Satu Jalan dengan Sel Tak Sama
Sumber
JK
dK
RK
p
Metode
706,010
2
353,005
3,472
3,099
< 0,05
Galat
9761,162
96
101,679
-
-
-
Total
10467,172
98
-
-
-
-


Data hasil rangkuman analisis variansi satu jalan sel tak sama dapat disimpulkan terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mendapat metode pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving dan ceramah.
 Berdasarkan uji hipotesis diperoleh H0 ditolak, maka perlu dilakukan uji lanjut pasca anava untuk melihat perbedaan yang terjadi pada setiap katagori. Metode yang digunakan pada uji lanjut pasca anava adalah metode Scheffe.
T


abel 2. Komparasi Ganda Prestasi Belajar
H0
Fobs
F0,05;2,96
P
keputusan
µ1 = µ2
F E1-E2=6,924
 6,198
<0,05
H0 ditolak
µ2 = µ3
F E2-K=2,151
 6,198
>0,05
H0 diterima
µ1 = µ3
F E1-K=1,352
 6,198
>0,05
H0 diterima



Berdasarkan tabel  komparasi ganda prestasi belajar antar pembelajaran dengan metode Scheffe menunjukkan bahwa kategori: 1) Terdapat perbedaan pengaruh metode pembelajaran Mind Mapping dan Problem Solving terhadap prestasi belajar. Karena H0: µE1 = µE2 ditolak, maka terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diberi pembelajaran dengan metode pembelajaran Mind Mapping dengan siswa yang diberi pembelajaran dengan metode Problem Solving. Dari rerata prestasi belajar siswa dengan metode Mind mapping (90,441) lebih tinggi daripada siswa dengan metode Problem Solving (83,906). Dengan demikian bahwa prestasi belajar matematika siswa dengan metode Mind Mapping lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan metode Problem Solving. 2) Tidak terdapat pengaruh pembelajaran Problem Solving dan ceramah terhadap prestasi belajar. Karena H0: µE2 = µK diterima, maka tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diberi pembelajaran dengan metode Problem Solving dengan metode ceramah. Dilihat dari rerata metode Problem Solving (83,906) dan metode ceramah (87,576) tidak berbeda secara signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Problem Solving memberikan prestasi belajar yang sama baiknya dengan metode pembelajaran ceramah. 3) Tidak terdapat pengaruh metode pembelajaran Mind Mapping dan ceramah terhadap prestasi belajar. Karena H0: µE1 = µK diterima, maka tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diberi pembelajaran dengan metode Mind Mapping dengan metode ceramah. Dilihat dari rerata metode Mind Mapping (90,441) dan metode ceramah (87,576) tidak berbeda secara signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Mind Mapping memberikan prestasi belajar yang sama baiknya dengan metode pembelajaran ceramah.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Metode pembelajaran Mind Mapping memberikan prestasi belajar lebih baik dibanding dengan metode pembelajaran Problem Solving. Metode pembelajaran Problem Solving memberikan prestasi belajar sama baiknya dengan metode pembelajaran ceramah. Metode pembelajaran Mind Mapping memberikan prestasi belajar yang sama baiknya dengan metode pembelajaran ceramah. 2) Ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan metode pembelajaran Mind Mapping, Problem Solving dancermah pada kelas VIII SMP Negeri 1 Barat Tahun Ajaran 2014/2015.
 Saran
Berdasarkan kesimpulan peneliti memberikan saran bagi para peneliti lain yaitu perlu adanya penelitian lanjutan dari penelitian ini pada siswa SD, SMP atau SMA lain dengan sekolah yang berbeda, apakah didapatkan kesimpulan yang sama atau tidak, serta perlu adanya peningkatan penggunaan media dalam kegiatan dokumentasi dan observasi penelitian yaitu media Audio-Visual.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hamdani. 2011. Stratetegi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Huda, M. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hudojo, H. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.
Noor, J. 2011. Metodologi Penelitian; Skripsi Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah. Jakarta: Prenada Media.
Sugiyono. 2013. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar